Beberapa kali pas lagi ngobrol sama orang ataupun temen-temen di kantor soal digital marketing, pertanyaannya tuh sering banget langsung loncat kaya tupai ke channel. “Harus main TikTok gak?”, “SEO masih bagus gak?”, “Mending Meta Ads atau Google Ads?”, atau kadang malah lebih panjang lagi, “Kita udah punya Instagram, TikTok, website, marketplace, terus pernah pasang ads juga, kurang apa lagi?”
Naaah, menurut gw pertanyaan kaya gitu sebenarnya gak salah. Cuman, sometimes urutannya aja yang kebalik. Karena kalau langsung ngomongin channel, jawabannya bisa panjang banget. Ada SEO dan atau yang sekarang lagi trend tuh GEO GEOan, kaya mata pelajaran dulu, terus ada Google Ads, Meta Ads, TikTok, Instagram, YouTube, email marketing, influencer, affiliate, marketplace, WhatsApp, website, dan entah besok muncul channel apaan lagi.
Terus apakah semuanya harus dipakai? Yaaa enggak juga.
Menurut gw, sebelum mikirin channel mana yang dipakai, pertanyaannya harus dibalikin dulu. Kita sebenarnya mau ngapain?
Kalau tujuannya belum jelas, ujung-ujungnya digital marketing cuma jadi aktivitas. Posting jalan, ads jalan, website ada, TikTok ada, report bulanan juga ada. Tapi pas ditanya hasil akhirnya apa, mulai bingung. Yaaa, walaupun Digital Marketing karena ada -ing nya juga bisa dibilang akativitas sih yaaa.
Digital Marketing Itu Apa?
Kalau nyari definisinya, digital marketing yaa kurang lebih aktivitas marketing yang menggunakan channel digital untuk menjangkau calon customer. Simple sih sebenarnya.
Tapi gw pribadi kurang suka kalau digital marketing cuma dipahami sebagai kumpulan channel. Punya Instagram berarti digital marketing. Pasang Meta Ads berarti digital marketing. Bikin website berarti digital marketing. SEO berarti digital marketing.
Padahal semuanya menurut gw cuma alat, tools, dan apapun sebutannyaa lah yaaa.
Intinya kanyaa tetap marketing.
Misalnya kita punya bisnis property. Tujuan akhirnya bukan punya Instagram yang estetik, bukan juga traffic website tinggi, bahkan bukan CPL Meta Ads yang murah. Tujuan akhirnya rumahnya laku. Walaupun cara memperbesar kemungkinan laku yaa yang disebutin di kalimat sebelumnya sih yaa.
Kalau kampus, yaa mungkin mahasiswa baru. Kalau ecommerce, pembelian. Kalau B2B, mungkin qualified leads yang akhirnya masuk meeting sama sales.
Jadi kalau gw disuruh jelasin digital marketing dengan cara yang lebih gampang, mungkin begini. Digital marketing adalah cara kita menggunakan channel digital supaya orang yang awalnya gak kenal kita, jadi kenal, terus tertarik, percaya, dan akhirnya melakukan sesuatu yang kita mau.
Bisa beli.
Bisa daftar.
Bisa isi form.
Bisa chat WhatsApp.
Bisa datang ke toko.
Tergantung bisnisnya.
Bisa PDKT sama dia juga, kalau mau…
Naaah, kalau mikirnya sudah begini, baru pertanyaan “channel mana yang harus dipakai?” mulai lebih gampang dijawab.
Jangan Mulai dari Channel Dulu
Ini yang menurut gw lumayan sering terjadi. Ada bisnis yang tiba-tiba bilang, “Tahun ini kita harus aktif TikTok.”
Kenapa?
“Karena sekarang orang banyak di TikTok.”
Yaaa benar sih. Orang juga banyak di Instagram. Banyak di Google. Banyak di YouTube. Banyak juga di WhatsApp, dan banyak dimana-mana, tergantung kacamata kita ngeliatnya,, ya gak sih?
Kalau alasannya cuma karena orang banyak di sana, yaa sekalian aja semuanya dibikin. Hehe.
Masalahnya, audience kita menggunakan tiap channel dengan kondisi dan intent yang beda-beda. Orang yang lagi scroll TikTok malam-malam tentu beda kondisinya dengan orang yang buka Google terus ngetik “rumah 300 juta di Jogja”.
Orangnya bisa aja sama. Tapi intent-nya beda.
Yang satu lagi santai, mungkin cuma pengen lihat video random. Yang satunya lagi sudah cukup jelas sedang mencari sesuatu.
Makanya menurut gw channel itu lebih enak dipilih berdasarkan perannya, bukan berdasarkan mana yang lagi ramai.
Ada Channel Buat Orang yang Memang Lagi Nyari
Gw mulai dari Google deh, karena ini yang paling gampang dilihat perbedaannya.

Misalnya ada orang ngetik “klinik gigi Jogja”, “harga rumah Bantul”, “kampus pariwisata Jogja”, atau “cara menghitung engagement rate”. Dari keyword-nya aja kita udah dikasih clue kalau orang ini sedang butuh sesuatu.
Nah traffic kaya gini menurut gw menarik banget karena user-nya datang dengan intent.
Kita bisa masuk lewat SEO, bisa juga lewat Google Ads.
Dua-duanya sama-sama bisa muncul di search engine, cuman cara kerjanya beda. SEO butuh waktu, kadang lama juga lol, tapi kalau udah dapat posisi bagus kita gak bayar setiap ada orang yang klik. Google Ads bisa jauh lebih cepat muncul, tapi yaa selama masih bayar.
Terus mending mana?
Tergantung lagi.
Kalau bisnis baru launching bulan depan terus butuh leads secepat mungkin, masa iya disuruh tunggu SEO enam bulan dulu? Tapi kalau bisnisnya mau jalan lama dan ada banyak keyword yang rutin dicari calon customer, masa iya selamanya cuma beli traffic juga?
Menurut gw keduanya justru bisa saling bantu.
SEO bisa jadi aset jangka panjang, Google Ads bisa ngasih speed.
Social Media Agak Beda Ceritanya
Kalau Google tadi orang yang nyari kita, social media seringnya kita yang nyamperin orang.
Orang buka Instagram kemungkinan besar gak lagi niat cari rumah, beli parfum, daftar kuliah, atau booking treatment. Mereka lagi buka Instagram aja.
Lihat Stories.
Lihat Reels.
Kepo akun orang.
Scroll Explore.
Tau-tau 45 menit lewat.
Cek DM udah dibaca atau belum.
Naaah, di tengah aktivitas itu brand bisa muncul, kalau yang terakhir.. bisa jugaa gak? 😀
Makanya menurut gw cara komunikasi di social media gak bisa diperlakukan sama dengan search. Kalau orang ngetik “sepatu lari pria”, masuk akal kalau kita langsung kasih halaman produk sepatu lari pria. Dia emang lagi nyari.
Tapi kalau orang lagi scroll Reels terus tiba-tiba dikasih iklan “BELI SEKARANG!!!”, yaaa siapa elu?

Belum kenal juga.
Menurut gw social media lebih kuat buat discovery, awareness, consideration, sampai membangun familiarity. Orang yang awalnya gak tahu produk kita ada, jadi tahu. Yang sudah tahu tapi lupa, jadi keinget lagi. Yang tadinya ragu, mungkin setelah lihat konten kita berkali-kali jadi mulai percaya.
Itu juga kenapa gw gak terlalu suka kalau organic social media cuma dievaluasi dengan pertanyaan, “Sales dari Instagram berapa?”
Bukan berarti gak bisa menghasilkan sales yaa. Bisa banget.
Cuman perannya gak selalu berhenti di direct conversion.
Meta Ads Terus Buat Apa?
Kalau organic social tadi kita berharap distribusi kontennya jalan secara organik, Meta Ads gampangnya yaa kita bayar Meta supaya iklan kita didistribusikan ke audience yang kita mau.
Tapi satu platform ini sendiri sebenarnya bisa dipakai buat banyak hal. Awareness bisa, traffic bisa, leads bisa, sales bisa, retargeting juga bisa.
Makanya kalau ada yang bilang “Meta Ads gak works”, gw biasanya malah pengen nanya lagi.
Gak works bagian mana?
Creative?
Audience?
Offer?
Landing page?
Product?
Atau sales-nya yang gak follow-up?
Soalnya kadang digital marketing tuh lucu. Misalnya ads berhasil dapat 100 leads, CPL murah, tapi leads-nya baru dibalas dua hari kemudian. Terus kesimpulannya Meta Ads jelek.
Laaah.
Menurut gw penting buat lihat satu sistem utuh, jangan channel-nya doang.
Website Menurut Gw Tetap Penting
Ini mungkin agak bias yaaa karena gw suka website. Tapi menurut gw website masih jadi salah satu aset digital yang penting banget buat bisnis.
Alasannya simple, karena website lebih kita punya.
Instagram bukan punya kita. TikTok bukan punya kita. Google juga bukan. Kita cuma numpang di platform mereka.
Besok algoritmanya berubah, reach turun, akun kena suspend, yaaa kita mau protes juga susah.
Website beda. Kita bisa atur struktur halaman, pasang analytics, bikin landing page, bikin artikel SEO, ngumpulin first-party data, sampai retargeting.
Tapi menurut gw ada satu fungsi website yang sering banget diremehin, yaitu validasi.
Misalnya orang pertama kali lihat brand dari Instagram Ads. Dia belum beli. Terus nama brand-nya di-search di Google. Masuk website, lihat produknya, lihat alamat, lihat perusahaan ini beneran ada apa gak. Besoknya mungkin balik lagi dari WhatsApp baru beli.
Kalau cuma lihat last-click conversion, mungkin WhatsApp yang dianggap menghasilkan transaksi.
Padahal sebenarnya perjalanannya lumayan panjang.
Makanya website menurut gw bukan selalu harus jadi tempat transaksi. Kadang dia berfungsi sebagai rumah resmi brand.
Kalau Jualan Produk, Marketplace Jangan Digengsiin
Ini juga kadang menarik.
Ada brand yang pengen semua transaksi masuk website karena pengen punya data sendiri. Menurut gw bagus, malah ideal kalau bisa.
Tapi kalau target market kita memang sudah terbiasa transaksi di Shopee, Tokopedia, TikTok Shop atau marketplace lainnya, terus kita paksa mereka pindah ke website hanya karena “biar owned channel”, menurut gw perlu dilihat lagi.
Marketplace punya trust yang susah dibangun oleh website baru.
User udah punya akun. Alamat udah ada. Payment method udah tersimpan. Ada review. Ada voucher. Ada gratis ongkir. Tinggal klik, checkout.
Kalau customer lebih nyaman beli di situ, menurut gw gak masalah.
Website tetap dibangun.
Brand tetap punya database.
Tapi conversion bisa terjadi di marketplace selama economics-nya masuk akal.
Yaaa balik lagi, digital marketing itu bukan soal kita paling ideal pakai channel apa. Yang dicari akhirnya yaa hasil.
Terus WhatsApp dan Email Gimana?
Naaah, ini dua hal yang menurut gw sering baru dipikirkan belakangan.
Bisnis kadang mau banget keluar duit buat dapat customer baru. Meta Ads jalan, Google Ads jalan, influencer jalan, promo jalan. Tapi setelah customer beli, datanya disimpan aja.
Gak pernah diajak ngobrol lagi.
Padahal kalau dipikir, orang yang sudah pernah beli atau sudah pernah kasih kontak biasanya jauh lebih gampang diajak melakukan action berikutnya dibanding cari orang baru dari nol.
Misalnya jual parfum. Customer beli sekarang, beberapa bulan lagi parfumnya mungkin habis.
Kenapa gak di-remind?
Klinik punya customer treatment bulan ini, mungkin tiga bulan lagi ada treatment lanjutan.
Kenapa gak di-follow-up?
Orang download ebook dari website tapi belum pernah beli.
Kenapa gak dikasih konten selanjutnya?
Hal-hal kaya gini mungkin gak terlalu kelihatan keren dibanding bikin campaign baru, tapi menurut gw justru penting kalau bisnisnya sudah punya cukup banyak leads atau customer.
Makanya digital marketing gak selalu tentang acquisition. Ada retention juga.
Jadi Channel Mana yang Harus Dipikirin Dulu?
Nah ini sebenarnya pertanyaan utama dari artikel ini. Kalau ada bisnis datang dan bilang, “Budget kita gak banyak, mulai dari mana?”, gw gak akan langsung jawab Instagram, SEO, atau ads.
Gw biasanya pengen tahu dulu orang sudah mencari produk ini atau belum.
Kalau search demand-nya tinggi, Google menarik banget. Misalnya jasa, property, kampus, kesehatan, travel, atau produk yang memang orang riset dulu sebelum beli. SEO dan Google Ads bisa jadi prioritas.
Tapi ada juga produk yang orang belum tentu kepikiran buat nyari karena mereka bahkan belum tahu produknya ada. Nah untuk model begini social media, creator atau paid social bisa lebih masuk akal buat discovery.
Terus gw juga pengen tahu conversion-nya terjadi di mana. Website, marketplace, WhatsApp, offline, atau malah harus meeting dulu sama sales.
Karena percuma awareness besar kalau setelah tertarik orang gak tahu harus ngapain.
Dan terakhir, yaa lihat resource.
Team ada berapa?
Budget berapa?
Bisa produksi konten berapa banyak?
Kalau team cuma satu orang terus disuruh aktif di Instagram, TikTok, YouTube, LinkedIn, X, nulis blog SEO, email marketing, ngurus website, sama sekalian Meta Ads…
Besok mungkin update LinkedIn, “Open to Work”.
Menurut gw jauh lebih enak punya sedikit channel tapi bener-bener dikerjain dibanding semua channel ada tapi setengah-setengah.
Kalau Mulai dari Nol, Gw Mungkin Mulai dari 3 Hal
Misalnya suatu bisnis benar-benar mulai dari nol. Belum ada traffic, social media masih kecil, website baru, budget juga belum unlimited.
Menurut gw minimal pikirin tiga bagian dulu.
Pertama, dari mana orang baru akan datang. Ini acquisition channel. Bisa SEO, Google Ads, Meta Ads, creator, marketplace, atau yang lainnya tergantung bisnis.
Kedua, setelah orang datang, mereka mau diarahkan ke mana. Bisa landing page, website, marketplace atau WhatsApp.
Ketiga, setelah mereka masuk, datanya mau diapain. Minimal ada database leads atau customer supaya kita gak setiap bulan mulai lagi dari nol.
Misalnya nihya, bisnis property, flow-nya bisa Meta Ads ke landing page atau WhatsApp, lalu masuk CRM dan ditindaklanjuti sales.
Kampus bisa Google Search ke website, masuk form pendaftaran, lalu follow-up via WhatsApp. Social media tetap ada, tapi mungkin lebih berfungsi buat ngebangun trust calon mahasiswa dan orang tua.
Ecommerce bisa creator atau Meta Ads, conversion-nya di website atau marketplace, terus customer lama dikelola lewat email atau WhatsApp.
Naaah, menurut gw kalau digambar, digital marketing akhirnya lebih kelihatan kaya sistem dibanding kumpulan channel.
Channel Saling Nyambung
Ini juga alasan kenapa kadang susah bilang satu penjualan murni datang dari channel mana.
Misalnya hari pertama orang lihat TikTok kita. Besoknya kena Instagram Ads. Dua hari kemudian dia search nama brand di Google, masuk website, belum beli. Seminggu kemudian kena retargeting, baru checkout.
Terus pas meeting ditanya, “Channel mana yang menghasilkan penjualan?”
Yaaa…
Bisa panjang jawabannya.
Customer journey di dunia nyata gak serapi funnel yang biasa kita gambar di slide. Orang bisa lihat, lupa, lihat lagi, tanya temen, baca review, search Google, terus baru beli.
Makanya menurut gw jangan terlalu cepat matiin channel cuma karena gak kelihatan menghasilkan direct sales.
Misalnya Instagram gak punya conversion terakhir, bukan berarti Instagram gak punya peran. Bisa aja orang pertama kali tahu brand dari sana.
Begitu juga SEO. Bisa jadi artikel gak langsung menghasilkan transaksi, tapi dia jadi first touch yang bikin user akhirnya kenal brand.
Kalau semuanya cuma dinilai dari siapa yang dapat conversion terakhir, yaa channel di bagian atas funnel bisa kelihatan gak berguna semua.
Terus Harus Omnichannel?
Wait.
Jangan jauh-jauh dulu. Hahaha.
Kadang habis ngerti semua channel saling nyambung, terus kesimpulannya “berarti kita harus omnichannel.”
Besok semuanya dibikin.
Menurut gw gak harus kaya gitu juga.
Mending channel pertama dibenerin dulu. Kalau sudah mulai menghasilkan traffic dan conversion, baru pikirin channel berikutnya. Kalau traffic banyak tapi conversion jelek, yaa jangan nambah traffic dulu. Benerin conversion-nya. Kalau conversion udah bagus tapi volumenya kecil, baru mulai scale acquisition. Kalau customer baru sudah banyak tapi repeat order-nya rendah, baru mulai serius mikirin retention.
Jadi setiap penambahan channel ada alasannya.
Bukan karena kompetitor buka TikTok terus kita ikut TikTok. Kompetitor bikin podcast terus kita tiba-tiba beli mic.
Hehe.
Kesimpulan
Jadi kalau ditanya digital marketing itu apa, yaa definisi gampangnya marketing menggunakan channel digital. Tapi kalau dipakai buat bisnis, menurut gw digital marketing jauh lebih enak dilihat sebagai cara kita membangun sistem supaya orang bisa menemukan brand kita, kenal, percaya, lalu akhirnya melakukan conversion.
Channel-nya bisa SEO, Google Ads, social media, Meta Ads, website, marketplace, influencer, email, WhatsApp, atau yang lainnya. Tapi bukan berarti semuanya harus langsung dipakai.
Kalau mulai dari nol, menurut gw jangan mulai dari pertanyaan “channel apa yang belum kita punya?”. Mulai dari “orang bisa menemukan kita dari mana, terus setelah ketemu mau kita bawa ke mana?”
Kalau dua pertanyaan itu udah bisa dijawab, biasanya pilihan channel mulai lebih gampang.
Terakhir, kalau ada yang bilang bisnis kalian harus TikTok karena sekarang semua orang ada di TikTok, mungkin tinggal tanya balik aja.
Terus kalau udah viral, orangnya mau dibawa ke mana?
Kalau jawabannya masih bingung, yaaa mungkin TikTok belum jadi masalah pertama yang harus diselesaikan.

